News
Beranda » Berita Border » Revitalisasi Sekolah di Sebatik dan Nunukan, Pesat Kuat Negara Hadir di Wilayah Perbatasan

Revitalisasi Sekolah di Sebatik dan Nunukan, Pesat Kuat Negara Hadir di Wilayah Perbatasan

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Atip Latipulhayat (tengah), berpose bersama seusai meresmikan revitalisasi delapan sekolah di Kabupaten Nunukan dan Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, pada Sabtu (17/1/2026). (Foto: BKHM Setjen Kemendikdasmen)

SEBATIK, Kalimantan Utara — Pemerintah kembali menegaskan komitmennya menghadirkan pendidikan yang layak hingga ke wilayah terluar Indonesia. Melalui program Revitalisasi Satuan Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI meresmikan delapan sekolah di Kabupaten Nunukan dan Pulau Sebatik, kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia.

Kehadiran fasilitas baru itu disambut haru siswa dan guru yang selama ini belajar dalam keterbatasan. Peresmian dilakukan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Atip Latipulhayat, pada Sabtu (17/1/2026).

Pulau Sebatik dikenal sebagai salah satu pulau kecil terluar yang berada di garis depan kedaulatan negara. Revitalisasi sekolah di wilayah ini menjadi simbol keberpihakan negara terhadap pemerataan kualitas pendidikan, khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Atip menyatakan, program revitalisasi merupakan instruksi langsung Presiden RI Prabowo Subianto yang sejalan dengan amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurutnya, upaya peningkatan mutu pendidikan tidak bisa dilakukan setengah-setengah.

“Pendidikan harus didukung sarana yang memadai. Sekolah harus aman, nyaman, dan benar-benar mendukung proses pembelajaran yang efektif,” ujar Atip di hadapan guru, siswa, dan masyarakat setempat.

Atip juga berpesan agar seluruh warga sekolah menjaga fasilitas yang telah dibangun pemerintah. Menurut Atip, keberlanjutan manfaat revitalisasi sangat bergantung pada kepedulian bersama dalam merawat bangunan dan sarana pendukungnya. “Merawat itu sama pentingnya dengan membangun,” katanya.

Apresiasi Daerah: Negara Hadir di Tapal Batas

Wakil Bupati Nunukan, Hermanus, menyebut kunjungan dan peresmian sekolah oleh Kemendikdasmen memiliki makna lebih dari sekadar agenda seremonial. Baginya, kehadiran pemerintah pusat di Sebatik adalah pesan kuat bahwa negara benar-benar hadir untuk masyarakat perbatasan.

“Anak-anak di tapal batas punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan bermutu. Atas nama pemerintah daerah, kami mengucapkan terima kasih atas perhatian besar ini,” ujar Hermanus.

Hermanus berharap revitalisasi sekolah mampu melahirkan generasi perbatasan yang percaya diri dan mampu bersaing, sekaligus menguatkan rasa kebangsaan di wilayah yang langsung berbatasan dengan negara lain.

Sekolah Lebih Aman, Semangat Belajar Meningkat

Manfaat revitalisasi paling nyata dirasakan oleh pihak sekolah. Kepala SMK Negeri 1 Nunukan, Jathu Roswita, mengungkapkan kondisi sekolah sebelum diperbaiki jauh dari kata ideal. Setiap hujan turun, proses belajar kerap terganggu karena atap dan plafon yang sudah lapuk.

“Kami sering khawatir atap runtuh. Kalau hujan, bocor di mana-mana sampai harus pakai terpal. Jumlah toilet juga sangat terbatas untuk 752 siswa,” ujar Roswita.

Kini, setelah revitalisasi dilakukan, rasa aman dan nyaman kembali dirasakan warga sekolah. Bangunan yang lebih kokoh dan fasilitas yang memadai, menurut Roswita, berdampak langsung pada motivasi belajar siswa. “Siswa jadi lebih semangat datang ke sekolah. Lingkungan belajar yang nyaman membuat mereka lebih fokus,” katanya.

Roswita menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto, Mendikdasmen Abdul Mu’ti, serta Wamendikdasmen Atip Latipulhayat atas perhatian yang diberikan kepada sekolah-sekolah di Nunukan. “Bantuan ini sangat berarti bagi kami,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Suryani, guru SMAS Katolik St. Gabriel Nunukan. Ia mengaku revitalisasi sekolah membawa perubahan besar, terutama dengan hadirnya fasilitas perpustakaan dan tambahan toilet. “Sekarang anak-anak punya ruang membaca yang layak. Ini sangat membantu proses belajar mereka,” katanya, seraya berharap program revitalisasi dapat terus berlanjut dan menjangkau sekolah-sekolah lain di berbagai daerah.

Suara Siswa Perbatasan

Dari kalangan siswa, rasa syukur juga mengalir. Agus Gustiawan, siswa kelas XII SMKN 1 Nunukan, mengatakan suasana belajar kini jauh berbeda dibanding sebelumnya. Ia dan teman-temannya tak lagi dihantui rasa takut saat hujan turun.

“Sekarang sekolah sudah direnovasi, tidak becek, tidak takut runtuh. Belajar jadi lebih lancar. Toiletnya juga sudah bagus semua,” ujar Agus dengan wajah sumringah.

Agus pun menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah. “Kami sebagai siswa di perbatasan sangat terbantu. Terima kasih atas revitalisasi ini,” katanya.

Revitalisasi delapan sekolah di Nunukan dan Sebatik menjadi bukti bahwa pembangunan pendidikan tak berhenti di kota-kota besar. Dari beranda terluar negeri, harapan tumbuh bahwa sekolah yang aman dan layak akan melahirkan generasi perbatasan yang tangguh dan berdaya saing.

(***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *