Jagoi Babang, Kalimantan Barat, 6 Agustus 2025 — Ketika banyak negara memilih membangun pagar tinggi dan tembok beton untuk menandai batas wilayahnya, kisah berbeda justru datang dari perbatasan Indonesia-Malaysia.
Di antara Serikin, Sarawak, dan Jagoi Babang, Kalimantan Barat, kehidupan masyarakatnya justru menjadi bukti nyata bahwa garis batas negara tidak mampu memutuskan ikatan yang telah terbentuk sejak lama.
Pada kawasan ini, batas politik hanyalah formalitas administratif. Masyarakat di kedua sisi hidup dalam kesatuan sosial dan budaya yang kuat.
Ikatan kekerabatan, kesamaan bahasa, adat istiadat, serta struktur sosial yang nyaris identik menjadikan mereka satu kesatuan dalam kehidupan sehari-hari. Suku Dayak Bidayuh menjadi identitas utama yang menyatukan masyarakat Serikin dan Jagoi Babang tanpa mengenal batas negara.
Kedekatan emosional antarwarga lintas batas pun sangat terasa. Tak jarang ditemukan satu keluarga yang secara administratif terpisah negara, namun tetap utuh secara sosial. Seorang kakak tinggal di Serikin, sementara adiknya menetap di Jagoi Babang. Fenomena ini bukan hal baru, melainkan cerminan realitas yang telah berlangsung turun-temurun.
Perkawinan campuran antarwarga kedua negara juga sudah menjadi bagian dari dinamika sosial masyarakat. Anak-anak tumbuh dengan identitas budaya ganda, fasih berbahasa Bidayuh, menyantap kuliner khas Kalimantan, dan mengenyam pendidikan di Sarawak. Ini menunjukkan bahwa perbatasan tidak menghalangi asimilasi budaya yang harmonis.
Adat istiadat pun turut memperkuat ikatan lintas batas. Mulai dari Gawai Dayak, ritual tolak bala, hingga upacara pernikahan adat dilangsungkan dengan cara yang sama di kedua wilayah. Ketika ada hajatan adat di satu sisi, saudara dari sisi lain akan datang, bahkan jika harus menempuh jalur kecil atau melintasi pos perbatasan.
Dari sisi ekonomi, interdependensi kedua wilayah sangat terasa. Pasar Serikin menjadi pusat aktivitas ekonomi yang penting bagi warga Jagoi Babang.
Produk Indonesia, mulai dari hasil bumi hingga kerajinan tangan, mengisi lapak-lapak pasar dan menjadi komoditas utama bagi pembeli dari Malaysia. Sebaliknya, masyarakat Jagoi Babang memperoleh barang kebutuhan harian, elektronik, hingga makanan kemasan dari pasar yang sama.
Tak sedikit pula warga Jagoi Babang yang bekerja di sektor informal di wilayah Serikin, seperti perkebunan sawit atau pekerjaan harian lainnya. Meski berlangsung di luar sistem formal, hubungan ini menjadi bagian vital dari ekonomi lokal, yang berjalan seiring dengan dinamika kehidupan di lintas batas.
Namun demikian, kebijakan negara yang cenderung formal dan kaku terkadang menjadi tantangan tersendiri. Sistem administrasi, pengawasan imigrasi, dan pengetatan aturan lintas batas sering kali memperumit interaksi alami yang telah berlangsung puluhan tahun. Akibatnya, masyarakat lokal menghadapi hambatan dalam aktivitas sosial dan ekonomi mereka, bahkan di tanah sendiri.
Meski demikian, masyarakat Serikin dan Jagoi Babang justru memberikan pelajaran penting tentang kehidupan lintas batas yang damai, saling menghormati, dan produktif. Mereka adalah potret dari bagaimana keterikatan kultural dan sosial bisa melampaui logika politik negara-bangsa.
Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah kedua negara memandang kawasan ini sebagai wilayah yang kaya akan relasi kemanusiaan, bukan sekadar zona rawan atau perbatasan yang perlu diawasi ketat.
Pendekatan pembangunan berbasis komunitas perlu diperkuat melalui kebijakan lintas batas seperti cross-border pass, penguatan pasar bersama, dan kolaborasi budaya antarwarga.
Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) ke depan pun seharusnya tidak hanya berorientasi pada aspek pertahanan dan penegasan batas, tetapi juga memperhatikan tatanan sosial, budaya, dan ekonomi yang telah terbentuk secara alami.
Dengan pendekatan yang menyeluruh, kawasan perbatasan seperti Serikin dan Jagoi Babang bisa menjadi model pengelolaan perbatasan yang humanis, inklusif, dan berkelanjutan.
Perbatasan tidak selalu tentang pemisahan dan penjagaan, ia bisa menjadi ruang pemersatu dan kerja sama jika dikelola dengan bijak.
Jagoi Babang dan Serikin telah membuktikan bahwa batas negara bukanlah akhir dari hubungan antarmanusia. Inilah momentum bagi kita semua untuk membangun perbatasan yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga hangat secara sosial dan kultural.
(Hamidin/Kelompok Ahli BNPP RI)
Komentar