SEOUL — Korea Utara (Korut) mulai membongkar beberapa pengeras suara di sepanjang perbatasan yang digunakan dalam kampanye kebisingannya terhadap Korea Selatan (Korsel), Sabtu (9/8/2025).
“Aktivitas militer Korea Utara yang membongkar pengeras suara terhadap Korea Selatan telah terdeteksi di beberapa bagian wilayah garis depan sejak Sabtu pagi,” kata Kepala Staf Gabungan (JCS) dalam sebuah pemberitahuan kepada awak media.
Militer menyatakan masih membutuhkan verifikasi lebih lanjut apakah pembongkaran akan dilakukan di seluruh wilayah perbatasan dengan memantau pergerakan militer Korut.
Korut telah lama menentang siaran pengeras suara militer dan penyebaran selebaran oleh aktivis karena khawatir informasi dari luar dapat mengancam rezim yang berkuasa.
Namun, di bawah pemerintahan mantan Presiden Yoon Suk Yeol yang konservatif, Korsel mengaktifkan kembali kampanye pengeras suara pertamanya dalam enam tahun pada Juni tahun 2024 lalu ketika Pemerintahan Pyongyang mengirimkan ribuan balon pengangkut sampah melintasi perbatasan.
Seoul sebelumnya telah melakukan kampanye semacam itu secara berkala setelah uji coba nuklir keempat Korut pada 2016.
Sejalan dengan upaya Presiden Lee Jae Myung untuk memperbaiki hubungan yang tegang dengan negara tetangganya, Korsel telah menyelesaikan pembongkaran pengeras suara anti-Pyongyang di sepanjang perbatasan yang dijaga ketat. Ini setelah menangguhkan siaran propaganda yang mengkritik Korut pada 11 Juni 2025.
Sejak menjabat pada Junie 2025, Lee telah mengambil langkah-langkah untuk memulihkan hubungan antar-Korea, yang tetap tegang sejak Korut menyatakan bahwa kedua Korea adalah negara ‘bermusuhan’ yang terpisah dan bergerak untuk membongkar simbol-simbol hubungan antar-Korea dan penyatuan pada akhir 2023.
Selain menghentikan siaran pengeras suara militer, Lee telah meminta kelompok masyarakat sipil untuk menghentikan distribusi selebaran anti-Pyongyang, dengan harapan bahwa isyarat rekonsiliasi ini dapat membuka jalan bagi keterlibatan dengan Korut.
Baru-baru ini, Seoul menunda sekitar setengah dari 40 latihan lapangan yang direncanakan yang menjadi bagian dari latihan gabungan tahunan Korsel-AS, Ulchi Freedom Shield, yang dijadwalkan akhir bulan ini hingga September 2025, dengan alasan berbagai faktor.
Keputusan ini diambil setelah Korut mengecam latihan gabungan antara kedua sekutu tersebut dan menuduh Korsel mengikuti secara membabi buta persekutuannya dengan Washington.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Unifikasi Chung Dong-young, pejabat tinggi Korsel di Korut, mengatakan ia akan mengusulkan penyesuaian latihan militer gabungan kepada Lee.
(Yonhap/Antara)
Komentar