Beijing, 8 Agustus 2025 — China mendukung gencatan senjata resmi yang disepakati Thailand dan Kamboja untuk menyelesaikan konflik terbuka kedua negara. Thailand dan Kamboja menandatangani dokumen resmi gencatan senjata antara angkatan bersenjata kedua negara dan kesepakatan implementasinya setelah pertemuan luar biasa Komite Perbatasan bilateral di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 4-7 Agustus 2025.
“Kamboja dan Thailand telah mengadakan pertemuan luar biasa Komite Perbatasan Umum dan mencapai kesepahaman mengenai pengaturan implementasi, mekanisme pemantauan, dan hal-hal tindak lanjut gencatan senjata. China menyambut baik hal ini,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam pernyataan tertulis di Beijing, China, Jumat (8/8/2025).
Delegasi Thailand dipimpin oleh Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Jenderal Nattaphon Narkphanit dan delegasi Kamboja dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Jenderal Tea Seikha.
Perjanjian resmi tersebut mengonfirmasi dan merinci kesepakatan yang dicapai pada 28 Juli 2025 dalam pertemuan para kepala pemerintahan kedua negara di Kuala Lumpur.
“Hal tersebut meletakkan dasar bagi terwujudnya gencatan senjata yang efektif dan memperkuat perdamaian abadi antara kedua belah pihak,” jelas Guo Jiakun, serta menambahkan bahwa situasi saat ini di sepanjang perbatasan Kamboja-Thailand terus membaik. “Hal ini membuktikan sepenuhnya bahwa dialog dan konsultasi adalah cara yang tepat untuk menyelesaikan sengketa. China menjunjung tinggi posisi yang adil dan jujur, mendukung Kamboja dan Thailand dalam meningkatkan komunikasi dan menyelesaikan perbedaan secara baik.”
Guo Jiakun juga menegaskan bahwa China mendukung kemajuan penyelesaian politik melalui “ASEAN Way” dan siap untuk terus memainkan peran konstruktif bagi penyelesaian sengketa perbatasan antara Kamboja dan Thailand secara damai.
Dalam kesepakatan pada Kamis (7/8/2025), Thailand dan Kamboja sepakat untuk menghentikan penggunaan segala jenis senjata, menghentikan serangan terhadap warga sipil, fasilitas sipil, dan militer dalam segala situasi dan di semua wilayah.
Kedua pihak juga memastikan status pengerahan pasukan saat ini tetap dipertahankan, efektif mulai 28 Juli 2025 (tanggal berlakunya gencatan senjata), tanpa pemindahan pasukan baru ke perbatasan Thailand-Kamboja dan patroli ke arah posisi pihak lawan.
Ketegangan di perbatasan Thailand dan Kamboja meningkat menjadi konfrontasi bersenjata pada 24 Juli 2025. Setelah bentrokan di wilayah perbatasan, kedua belah pihak terlibat dalam baku tembak yang sudah menewaskan setidaknya 30 orang.
Kamboja menggunakan sistem peluncur roket ganda Grad, termasuk terhadap sasaran sipil di wilayah Thailand, sementara Thailand melancarkan serangan udara terhadap posisi militer Kamboja. Kedua belah pihak melaporkan adanya korban, termasuk warga sipil.
Kemudian pada Senin (28/7/2025), Thailand dan Kamboja mengumumkan kesepakatan gencatan senjata segera setelah pertemuan antara Pejabat Perdana Menteri (PM) Thailand Phumtham Wechayachai dan PM Kamboja Hun Manet yang dimediasi oleh PM Malaysia Anwar Ibrahim di Kuala Lumpur.
(antara)
Komentar