Jakarta, 27 Juli 2025 — Di balik lebatnya rimba Kalimantan yang membentang di antara perbatasan Indonesia dan Malaysia, terdapat suara khas yang menjadi penanda kehadiran satwa endemik bernama Klempiau, primata bermuka putih yang menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem hutan perbatasan. Namun kini, suara alam itu kian jarang terdengar.
Klempiau atau owa Kalimantan (Hylobates muelleri), hidup tersebar mulai dari Entikong, Nanga Badau, Jagoi Babang, hingga Lubok Antu dan Serikin di wilayah Malaysia. Meski berada di jalur strategis dan menyimpan potensi besar sebagai simbol ekowisata dan konservasi, satwa ini belum mendapat perhatian yang memadai dalam kebijakan perlindungan satwa liar di kawasan perbatasan.
Seiring meningkatnya kesadaran global terhadap isu lingkungan, sudah saatnya Klempiau diangkat sebagai ikon perlindungan satwa kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia. Keberadaannya bukan sekadar cerminan keanekaragaman hayati, tetapi juga peluang diplomasi konservasi lintas negara yang berpijak pada keberlanjutan.
Klempiau merupakan bagian dari keluarga Hylobatidae, dikenal karena kemampuan berayun lincah di antara dahan pohon dan memiliki panggilan vokal yang nyaring serta khas. Tubuhnya ramping, wajahnya putih pucat, dan bulunya berwarna abu-abu kehitaman, menciptakan kontras anggun yang menjadikannya mudah dikenali.
Satwa ini hidup berpasangan dan memiliki sifat teritorial. Dalam budaya masyarakat Dayak, suara Klempiau bahkan dipercaya membawa pesan spiritual, seperti pertanda perubahan cuaca atau peringatan alami dari alam semesta.
Sayangnya, Klempiau jarang diperbincangkan dalam wacana konservasi nasional, kalah populer dari orangutan dan bekantan. Padahal, status konservasinya tergolong rentan (Vulnerable) dan telah ditetapkan sebagai satwa dilindungi menurut peraturan pemerintah.
Hutan tropis primer dan sekunder menjadi rumah utama bagi Klempiau. Namun dalam dua dekade terakhir, kawasan perbatasan Kalimantan menghadapi tekanan luar biasa dari ekspansi perkebunan, pembukaan lahan, pembalakan liar, hingga pembangunan infrastruktur lintas negara.
Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di wilayah seperti Entikong-Tebedu menjadi simbol kemajuan, tetapi juga menyimpan potensi ancaman bagi kelangsungan hidup satwa liar seperti Klempiau. Keberadaan mereka terpinggirkan, dan jika tidak ada upaya nyata menjaga habitatnya, dikhawatirkan suara Klempiau akan benar-benar menghilang dari lanskap perbatasan.
Perbatasan tidak hanya memisahkan dua negara, tapi juga menyatukan lanskap ekologis yang sama. Untuk itu, pelestarian Klempiau harus dilakukan secara terpadu oleh kedua negara.
Inisiatif seperti program Heart of Borneo yang melibatkan Indonesia, Malaysia, dan Brunei, dapat menjadi dasar kerja sama yang lebih konkret di wilayah tapal batas.
Menjadikan Klempiau sebagai ikon konservasi perbatasan akan membuka ruang kolaborasi strategis. Ia dapat menjadi simbol kampanye edukasi lintas batas, pengembangan ekowisata hutan yang berkelanjutan, serta medium untuk mengintegrasikan pelestarian lingkungan ke dalam pembangunan wilayah perbatasan.
Kehadiran Klempiau dalam keseharian masyarakat adat Kalimantan memperkuat makna simboliknya. Mengangkat Klempiau sebagai simbol di kawasan PLBN dalam bentuk patung, mural, atau maskot edukatif, bukan hanya memperkenalkan kekayaan lokal, tetapi juga mendorong rasa kepemilikan masyarakat terhadap upaya konservasi.
Dengan langkah ini, anak-anak di perbatasan bisa tumbuh mengenal satwa khas dari daerahnya sendiri. Masyarakat pun dapat didorong untuk tidak memburu satwa liar dan turut serta menjaga hutan, karena Klempiau bukan hanya milik Kalimantan, tapi warisan nasional.
Klempiau adalah suara yang menandakan hutan masih hidup. Ia menjadi pengingat bahwa di balik batas negara, ada kehidupan yang tak mengenal sekat administratif, kehidupan yang membutuhkan perlindungan nyata.
Menjadikan Klempiau sebagai ikon konservasi lintas batas Indonesia-Malaysia adalah langkah penting untuk memperkuat identitas ekologis, budaya, dan diplomasi negara.
Ketika Klempiau tetap bisa bersuara dari kanopi-kanopi tinggi di perbatasan, maka kita tahu bahwa hutan masih bernafas, dan harapan untuk masa depan yang berkelanjutan masih menyala.
Dengan langkah bersama, suara Klempiau akan tetap menggema, bukan sebagai jeritan kehilangan, melainkan sebagai lagu alam yang menandai keberhasilan kita menjaga bumi dan batas negeri.
(Oleh Hamidin/Kelompok Ahli BNPP RI/Pengamat Perbatasan Negara)



Komentar