TERNATE — Sektor perikanan Maluku Utara sejatinya menyimpan “harta karun” laut yang luar biasa. Namun hingga 2024, pemanfaatannya baru menyentuh 61,65 persen dari total potensi yang ada.
Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, mengungkapkan potensi sumber daya ikan di perairan Maluku Utara diperkirakan mencapai 517 ribu ton per tahun. Sayangnya, realisasi produksinya belum optimal.
“Pada 2024, tingkat pemanfaatan potensi tersebut mencapai 61,65 persen,” kata Rokhmin dalam Talkshow Menatap Masa Depan Perikanan Maluku Utara di Halmahera Ballroom, Bela Hotel Ternate, Sabtu (11/4/2026).
Data menunjukkan, produksi perikanan tangkap sempat naik dari 319.925 ton pada 2020 menjadi 361.500 ton pada 2021. Namun tren tersebut berbalik menurun hingga 318.734 ton pada 2024. Penurunan ini dinilai sebagai sinyal adanya persoalan struktural dalam tata kelola sektor perikanan.
Salah satu faktor krusial adalah anjloknya jumlah nelayan. Jika pada 2020 terdapat lebih dari 93 ribu nelayan tangkap laut, maka pada 2024 jumlahnya tinggal sekitar 46 ribu orang—turun lebih dari 50 persen dalam empat tahun.
“Ini penurunan yang sangat signifikan. Tanpa nelayan yang kuat, mustahil produksi bisa maksimal,” tegas mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI tersebut.
Masalah lain adalah struktur armada yang masih didominasi perahu tradisional. Dari sekitar 30 ribu unit kapal, sebagian besar berupa perahu tanpa motor dan perahu motor tempel. Artinya, daya jelajah dan kapasitas tangkap masih terbatas.
Padahal, komoditas unggulan Maluku Utara tergolong bernilai ekonomi tinggi. Produksi tuna pada 2024 tercatat lebih dari 50 ribu ton, disusul kakap dan cakalang dalam jumlah besar. Komoditas ini memiliki pasar ekspor yang luas dan permintaan global yang stabil.
Merujuk data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sektor perikanan nasional menjadi salah satu penopang ekonomi maritim Indonesia. Namun tanpa modernisasi alat tangkap, penguatan logistik rantai dingin (cold chain system), serta industrialisasi pengolahan, nilai tambah akan terus bocor keluar daerah.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University itu menegaskan, transformasi agro-maritim berbasis inovasi menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing, kedaulatan pangan, dan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.
“Produksi perikanan tangkap Maluku Utara masih kuat, tetapi cenderung melambat dalam tiga tahun terakhir. Ini harus segera dibenahi,” ujar Rokhmin.
Jika potensi 517 ribu ton itu bisa dimaksimalkan, Maluku Utara berpeluang menjadi salah satu lumbung perikanan nasional yang strategis di kawasan timur Indonesia.
(Editor: Samsul Muarif)




Komentar